Planet Lagu - Lirik Lagu Mars Muslimat Nu Dan Download Mp3
Hymne dan Mars Lagu OrganisasiKami juga sudah menyiapkan lirik lagu ini dalam format gambar. Tidak lupa juga video Mars Muslimat NU dalam formta video yang sanggup teman tonton
Dan di bawah ini adalah
Lirik lagu Mars Muslimat Nahdlatul Ulama
MARS MUSLIMAT NU
Marilah kaum ibu muslimat
Nahdlatul Ulama dan setia
Al-Quran, Hadits, Ijma’ dan Qiyas
Menjadi ajaran utama
Demi agama, nusa, dan bangsa
Negara hening bahagia
Majulah kaum ibu muslimat
Pengemban, pembawa amanat
Pendidik, pembina bunga bangsa
Menunaikan kiprah mulia
Berilmu, beramal, dan berbakti
Bertaqwa pada Ilahi
Marilah hai kaum ibu
Bimbinglah putra-putrimu
Iman teguh, bijaksana
Muslimat Indonesia
Marilah hai kaum ibu
Bimbinglah putra-putrimu
Iman teguh, bijaksana
Muslimat Indonesia
Marilah kaum ibu muslimat
Nahdlatul Ulama dan setia
Al-Quran, Hadits, Ijma’ dan Qiyas
Menjadi ajaran utama
Demi agama, nusa, dan bangsa
Negara hening bahagia
Majulah kaum ibu muslimat
Pengemban, pembawa amanat
Pendidik, pembina bunga bangsa
Menunaikan kiprah mulia
Berilmu, beramal, dan berbakti
Bertaqwa pada Ilahi
Marilah hai kaum ibu
Bimbinglah putra-putrimu
Iman teguh, bijaksana
Muslimat Indonesia
Marilah hai kaum ibu
Bimbinglah putra-putrimu
Iman teguh, bijaksana
Muslimat Indonesia
Baca dan juga download Mars NU yang asli, disini: Lirik Lagu Mars NU (Nahdlatul Ulama) dan Download Mp3
Untuk melihat video mars Muslimat NU, silahkan putar video dibawah ini:
Dapatkan lagu ini sekarang!
Download Mars Muslimat NU MP3
Belum lengkap rasanya jikalau tidak mempunyai lagu ini dalam format mp3. Untuk download Mars Muslimat NU mp3, silahkan buka link downloadnua disini: Download Mars Muslimat NU Mp3
Sejarah muslimat NU
Sumber : https://id.wikipedia.org
Sejarah pergerakan perempuan NU mempunyai akar kesejarahan panjang dengan pergunulan yang amat sengit yang kesudahannya memunculkan aneka macam gerakan perempuan baik Muslimat, fatayat hingga Ikatan pelajar putri NU.
Sejarah mencatat bahwa kongres NU di Menes tahun 1938 itu merupakan lembaga yang mempunyai arti tersendiri bagi proses katalisis terbentuknya organisasi Muslimat NU. Sejak kelahirannya pada tahun 1926, NU yaitu organisasi yang anggotanya hanyalah kaum pria belaka.
Para ulama NU dikala itu masih beropini bahwa perempuan belum masanya aktif di organisasi. Anggapan bahwa ruang gerak perempuan cukuplah di rumah saja masih besar lengan berkuasa menempel pada umumnya warga NU dikala itu. Hal itu terus berlangsung hingga terjadi polarisasi pendapat yang cukup hangat ihwal perlu tidaknya perempuan berkecimpung dalam organisasi.
Dalam kongres itu, untuk pertama kalinya tampil seorang muslimat NU di atas podium, berbicara ihwal perlunya perempuan NU mendapatkan hak yang sama dengan kaum lelaki dalam mendapatkan didikan agama melalui organisasi NU. Verslag kongres NU XIII mencatat : “Pada hari Rebo ddo : 15 Juni ’38 sekira poekoel 3 habis dhohor telah dilangsoengkan openbare vergadering (dari kongres) bagi kaoem iboe, …
Tentang kawasan kaoem iboe dan kaoem bapak jang memegang pimpinan dan wakil-wakil pemerintah yaitu terpisah satoe dengan lainnja dengan batas kain poetih.” Sejak kongres NU di Menes, perempuan telah secara resmi diterima menjadi anggota NU meskipun sifat keanggotannya hanya sebagai pendengar dan pengikut saja, tanpa diperbolehkan menduduki dingklik kepengurusan. Hal menyerupai itu terus berlangsung hingga Kongres NU XV di Surabaya tahun 1940.
Dalam kongres tersebut terjadi pembahasan yang cukup sengit ihwal anjuran Muslimat yang hendak menjadi bab tersendiri, mempunyai kepengurusan tersendiri dalam tubuh NU. Dahlan termasuk pihak-pihak yang secara gigih memperjuangkan biar anjuran tersebut sanggup diterima peserta kongres. Begitu tajamnya pro-kontra menyangkut penerimaan anjuran tersebut, sehingga kongres sepakat menyerahkan perkara itu kepada PB Syuriah untuk diputuskan.
Sehari sebelum kongres ditutup, kata sepakat menyangkut penerimaan Muslimat belum lagi didapat. Dahlanlah yang berupaya keras menciptakan semacam pernyataan penerimaan Muslimat untuk ditandatangani Hadlratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari dan KH. A. Wahab Hasbullah. Dengan adanya secarik kertas sebagai tanda persetujuan kedua tokoh besar NU itu, proses penerimaan sanggup berjalan dengan lancar.
Bersama A. Aziz Dijar, Dahlan pulalah yang terlibat secara penuh dalam penyusunan peraturan khusus yang menjadi cikal bakal Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Muslimat NU di kemudian hari. Bersamaan dengan hari penutupan kongres NU XVI, organisasi Muslimat NU secara resmi dibentuk, tepatnya tanggla 29 Maret 1946 / 26 Rabiul Akhir 1365. Tanggal tersebut kemudian ditetapkan sebagai hari lahir Muslimat NU sebagai wadah usaha perempuan Islam Ahlus Sunnah Wal Jama`ah dalam mengabdi kepada agama, bangsa dan negara.
Sebagai ketuanya dipilih Chadidjah Dahlan asal Pasuruan, isteri Dahlan. Ia merupakan salah seorang perempuan di lingkungan NU itu selama dua tahun yakni hingga Oktober 1948. Sebuah rintisan yang sangat berharga dalam memperjuangkan harkat dan martabat kaumnya di lingkungan NU, sehingga keberadaannya diakui dunia internasional, terutama dalam kepeloporannya di bidang gerakan wanita.
Pada Muktamar NU XIX, 28 Mei 1952 di Palembang, NOM menjadi tubuh otonom dari NU dengan nama gres Muslimat NU.
Sejarah muslimat NU
Sumber : https://id.wikipedia.org
Sejarah pergerakan perempuan NU mempunyai akar kesejarahan panjang dengan pergunulan yang amat sengit yang kesudahannya memunculkan aneka macam gerakan perempuan baik Muslimat, fatayat hingga Ikatan pelajar putri NU.
Sejarah mencatat bahwa kongres NU di Menes tahun 1938 itu merupakan lembaga yang mempunyai arti tersendiri bagi proses katalisis terbentuknya organisasi Muslimat NU. Sejak kelahirannya pada tahun 1926, NU yaitu organisasi yang anggotanya hanyalah kaum pria belaka.
Para ulama NU dikala itu masih beropini bahwa perempuan belum masanya aktif di organisasi. Anggapan bahwa ruang gerak perempuan cukuplah di rumah saja masih besar lengan berkuasa menempel pada umumnya warga NU dikala itu. Hal itu terus berlangsung hingga terjadi polarisasi pendapat yang cukup hangat ihwal perlu tidaknya perempuan berkecimpung dalam organisasi.
Dalam kongres itu, untuk pertama kalinya tampil seorang muslimat NU di atas podium, berbicara ihwal perlunya perempuan NU mendapatkan hak yang sama dengan kaum lelaki dalam mendapatkan didikan agama melalui organisasi NU. Verslag kongres NU XIII mencatat : “Pada hari Rebo ddo : 15 Juni ’38 sekira poekoel 3 habis dhohor telah dilangsoengkan openbare vergadering (dari kongres) bagi kaoem iboe, …
Tentang kawasan kaoem iboe dan kaoem bapak jang memegang pimpinan dan wakil-wakil pemerintah yaitu terpisah satoe dengan lainnja dengan batas kain poetih.” Sejak kongres NU di Menes, perempuan telah secara resmi diterima menjadi anggota NU meskipun sifat keanggotannya hanya sebagai pendengar dan pengikut saja, tanpa diperbolehkan menduduki dingklik kepengurusan. Hal menyerupai itu terus berlangsung hingga Kongres NU XV di Surabaya tahun 1940.
Dalam kongres tersebut terjadi pembahasan yang cukup sengit ihwal anjuran Muslimat yang hendak menjadi bab tersendiri, mempunyai kepengurusan tersendiri dalam tubuh NU. Dahlan termasuk pihak-pihak yang secara gigih memperjuangkan biar anjuran tersebut sanggup diterima peserta kongres. Begitu tajamnya pro-kontra menyangkut penerimaan anjuran tersebut, sehingga kongres sepakat menyerahkan perkara itu kepada PB Syuriah untuk diputuskan.
Sehari sebelum kongres ditutup, kata sepakat menyangkut penerimaan Muslimat belum lagi didapat. Dahlanlah yang berupaya keras menciptakan semacam pernyataan penerimaan Muslimat untuk ditandatangani Hadlratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari dan KH. A. Wahab Hasbullah. Dengan adanya secarik kertas sebagai tanda persetujuan kedua tokoh besar NU itu, proses penerimaan sanggup berjalan dengan lancar.
Bersama A. Aziz Dijar, Dahlan pulalah yang terlibat secara penuh dalam penyusunan peraturan khusus yang menjadi cikal bakal Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Muslimat NU di kemudian hari. Bersamaan dengan hari penutupan kongres NU XVI, organisasi Muslimat NU secara resmi dibentuk, tepatnya tanggla 29 Maret 1946 / 26 Rabiul Akhir 1365. Tanggal tersebut kemudian ditetapkan sebagai hari lahir Muslimat NU sebagai wadah usaha perempuan Islam Ahlus Sunnah Wal Jama`ah dalam mengabdi kepada agama, bangsa dan negara.
Sebagai ketuanya dipilih Chadidjah Dahlan asal Pasuruan, isteri Dahlan. Ia merupakan salah seorang perempuan di lingkungan NU itu selama dua tahun yakni hingga Oktober 1948. Sebuah rintisan yang sangat berharga dalam memperjuangkan harkat dan martabat kaumnya di lingkungan NU, sehingga keberadaannya diakui dunia internasional, terutama dalam kepeloporannya di bidang gerakan wanita.
Pada Muktamar NU XIX, 28 Mei 1952 di Palembang, NOM menjadi tubuh otonom dari NU dengan nama gres Muslimat NU.

